Senin, 02 Maret 2015

Belajar Agama Islam Indah

Belajar Agama Islam Itu Indah


Belajar Apa Dulu?
Kita semua telah tahu bahwa berIslam itu dimulai dari menuntut ilmu
tentang Islam itu sendiri. Tidak langsung mengamalkan suatu
amalan yang amalan itu mungkin belum jelas apakah ada dasarnya
dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Dan juga tidak langsung berdakwah
dengan ilmu yang pas-pasan. Lalu jika kita mau belajar Islam,
sebenarnya apa yang harus kita prioritaskan untuk kita pelajari lebih
dahulu?
Mari kita pikirkan sejenak! Agama ini datang dari Pencipta kita, dan
disampaikan oleh RasulNya. Tujuan agama ini adalah menegakkan
ibadah kepada Pencipta kita tersebut dengan cara-cara yang telah
disampaikan oleh Rasulnya. Jadi sebelum kita belajar Islam lebih
dalam, maka seharusnyalah kita mengetahui siapa Pencipta kita itu,
dan bagaimana cara berinteraksi denganNya. Juga mengetahui
siapa RasulNya dan bagaimana kita bersikap terhadap beliau.
Dua hal tersebut tercakup dalam ilmu yang disebut ‘aqidah. Aqidah
berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Jika ada orang yang
berkata, “ Saya ber’aqidah begini”. Maksudnya adalah, ia mengikat
hati terhadap sesuatu tersebut. Singkat kata, ‘aqidah adalah apa
yang diyakini oleh seseorang. Aqidah merupakan perbuatan hati,
yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Secara
terinci, aqidah adalah rukun iman, yaitu iman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para
RasulNya dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik dan
yang buruk. Jadi, ilmu Islam yang harus kita prioritaskan untuk kita
pelajari lebih dahulu adalah ‘aqidah.
Mungkin kita masih bertanya-tanya, mengapa demikian?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “ Barang siapa
yang mengerjakan amal baik, baik lelaki maupun wanita dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl : 97).
Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa
Ia akan memberi pahala kepada laki-laki dan perempuan yang
beramal baik dan dalam keadaan beriman. Jadi, Allah Subhanahu
wa Ta’ala mensyaratkan keimanan bagi seseorang yang beramal
baik agar orang itu diberi pahala. Jika orang itu beramal baik yang
banyak sekali, namun ia tidak mempunyai keimanan, maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberi pahala kepadanya. Maka
keimanan tersebut merupakan syarat mutlak bagi seseorang jika ia
ingin selamat dunia akherat.
Sedangkan tadi telah dijelaskan bahwa keimanan itu termaktub
dalam rukun iman. Dan rukun iman itulah inti aqidah Islam. Maka
inilah sisi pentingnya ‘aqidah Islam. Jika seseorang belajar tentang
ilmu fiqh sedalam-dalamnya, kemudian ia beramal sebanyak-
banyaknya, namun tidak pernah mempelajari ‘aqidah Islam, maka
jurang kehancuran telah siap menelannya.
Sangat mungkin sekali ia berbuat syirik namun ia tidak pernah
mengetahui hal tersebut, karena ia tidak mau mempelajari ‘aqidah
Islam. Padahal ia telah beramal banyak. Karena keengganannya
untuk mempelajari ‘aqidah Islam itulah, yang membuat ia terjerumus
ke dalam perbuatan syirik, sehingga syirik tersebut membuat
amalnya batal semuanya tak bersisa. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman, yang artinya: “ Jika kamu mempersekutukan (Allah),
niscaya benar-benar akan terhapus semua amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Az-Zumar: 65).
Inilah pentingya ‘aqidah! Dengan mempelajari dan menegakkan
‘aqidah Islamiyah-lah kita akan selamat dunia akhirat.
Hal yang pertama sekali harus kita pelajari dalam ilmu ‘aqidah
adalah tentang dua kalimat syahadat. Mengapa?
Secara akal, dua kalimat syahadat inilah yang bisa membuat
seseorang dari kafir menjadi muslim. Maka sungguh aneh jika
seorang muslim tidak pernah mempelajari kalimat yang dengannya
kita bisa selamat dari neraka. Dan sungguh tergesa-gesa sekali jika
kita meninggalkan kalimat syahadat, dan langsung mempelajari ilmu
lain. Padahal kalimat inilah yang mengandung tauhidullah
(pengesaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang merupakan
tugas pokok para Rasul dari Nabi Nuh ‘alaihissalaam sampai Rasul
terakhir, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “ Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan), sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut
(sesembahan selain Allah) itu.’.” (QS: An-Nahl: 36). “ Dan Kami
tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya, ‘ Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak
untuk disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian
akan Aku.’.” (QS: Al-Anbiyaa’: 25).
Dalam surat Al-A’raf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan
bahwa Nabi Nuh, Huud, Shalih, Syuaib, dan lain-lain itu sama semua
seruannya, yaitu menyeru kepada penyembahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala semata (tauhid), yang artinya: “ Hai kaumku, sembahlah
Alloh, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selainNya.” (QS: Al-
A’raaf: 59, 65, 73, 85).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah
kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” (HR: Al-
Bukhary dan Muslim).
Dari dalil-dalil di atas, telah jelas bagi kita bahwa tugas inti dan
yang paling pokok dari para Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah menyampaikan kalimat tauhid, menegakkan penyembahan
hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Jika kita tidak
mempelajari aqidah, maka tujuan pengutusan rasul Allah pada diri
kita tidak tercapai, dan akibatnya hanya akan menjadi kerugian pada
diri kita suatu hari nanti.
Selain memang dakwah kepada tauhidullah itu adalah tugas inti
dakwah para rasul, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
menjadikan penyampaian kalimat syahadat menjadi materi dakwah
yang pertama kali harus diterangkan kepada umat.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz
bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman,
yang artinya: “ Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab,
maka hendaklah pertama kali dakwah yang kamu sampaikan
kepada mereka ialah syahadat Laa ilaaha illaLLaah “–dalam riwayat
lain disebutkan: “Supaya mereka mentauhidkan Alloh” – Jika
mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka
sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada
mereka shalat lima waktu sehari semalam….” (HR: Al-Bukhary dan
Muslim).
Jika begitu, maka ilmu Islam yang harus kita prioritaskan untuk kita
pelajari lebih dulu dan kita utamakan adalah ‘aqidah, khususnya
tentang kalimat syahadat.
Maka jangan tunggu-tunggu lagi, mari kita pelajarilah rukun iman,
koreksi pemahaman kalimat syahadat kita, bisa jadi belum
sempurna. Tegakkan tauhidullah, sembahlah Allah Subhanahu wa
Ta’ala saja, jauhkanlah diri dari segala macam bentuk syirik dan
segala macam penyimpangan dalam ‘aqidah. Jangan sampai
keengganan kita untuk belajar ‘aqidah Islam menjadi bumerang bagi
diri kita sendiri pada waktu menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala
nanti. Wallaahu a’lam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan kita hidayah dan bimibingannya selalu.
(Sumber Rujukan: Kitab Tauhid 1, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah
Al-Fauzan; Kitab Tauhid, AsySyaikh Muhammad At-Tamimi;
Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan, Muhammad bin Shalih
Al-‘Utsaimin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar